Sabtu, 26 Maret 2011

analog

halo bloggers
ini ada beberapa hasil jepretan dari kamera analog hasil browsing dari om google
tertarik banget sama kamera analog jadinya



Fun !!! Mungkin kata itu yang bisa melukiskan perasaan saya ketika menggunakan (lagi) kamera analog. Bukan berarti kamera digital kurang fun. Sama sekali tidak. Kamera digital memiliki fun tersendiri buat saya.

Kesenangan apa yang saya dapat dengan kamera analog? Tidak seperti dulu ketika saya pertama kali menggunakan kamera. Ada objek, bidik, yak foto! Tidak memikirkan aspek cahaya dan objek yang difoto. Yang jelas, sekarang saya harus berfikir dan menggambar objek yang mau difoto dalam pikiran saya sebelum menekan tombol pelepas rana. Ini melatih kepekaan dalam memotret dan dituntut untuk tidak motret asal-asalan.

Dari segi biaya produksi jelas sekali kamera analog makan biaya yang tidak sedikit. Filmnya saja sekarang berkisar antara Rp. 17000 ,- s/d Rp. 22000,- (film warna dan tidak kadaluarsa). Ongkos cuci antara Rp. 5000,- s/d Rp. 8000,- dan ongkos cetak Ilford 400 35mmukuran 4R sebesar Rp. 550,- per/lembar (harga ini bervariasi). Untuk memotret/hunting foto minimal bawa 2 – 3 rol film. Untuk dokumentasi event(kenduri, pernikahan, seminar) bisa lebih dari 3 rol. Jadi saya rasa cukup mahal. Cuci-cetak foto sendiri pun harus merogoh kantong lebih dalam. Selain peralatan yang cukup mahal, bahan-bahan kimia untuk kepentingan cuci dan cetaknya pun tidak murah. Faktor inilah yang sering membuat orang berpindah dari analog ke digital.

Kamera digital jauh lebih praktis dan sangat murah dari sisi ongkos produksi. Hasil foto terekam dalam kartu memory. Kalau hasil foto jelek tinggal hapus, lalu foto lagi. Ekonomis. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan kamera bila hasilnya hendak dicetak pada kertas foto. Makin tinggi megapixels-nya maka hasilnya ketika dicetak ukurannya bisa maksimal tanpa gambarnya pecah. Contohnya kamera dengan kemampuan 6.1 MP, bisa dicetak secara optimal untuk foto ukuran 10.02 inch x 6.67 inch dengan kerapatan 300 ppi (pixels per inch). Kamera digital SLR bagus untuk belajar. Dengan syarat setelannya dibuat manual. Agar mudah memahami prinsip-prinsip cahaya dan tidak ragu untuk mencoba motret, bereksperimen. Mudah menghapus gambar yang jelek atau gagal tanpa harus ada beban. Cara kerja kamera mirip dengan mata manusia, tapi yang pasti kamera mampu menangkap warna yang tidak bisa ditangkap oleh mata normal dengan memainkan kombinasi shutter speed dan apperture.